‘Ndasmu’ dalam Pertaruhan Etika Politik Levinas
Pada 15 Februari 2025, dalam perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik terhadap program makan bergizi gratis dan komposisi kabinetnya yang dinilai "gemuk". Menjawab kritik tersebut, Prabowo menggunakan ungkapan "ndasmu" sebagai bentuk ketidaksetujuannya (Kumparan, 2025). Ungkapan "ndasmu" kembali muncul dalam pidato Prabowo di acara internal Rakornas Partai Gerindra beberapa waktu lalu, yang kemudian viral di media sosial. Penggunaan kata "ndasmu" oleh Prabowo telah beberapa kali menjadi sorotan publik. Sekitar 1,2 tahun yang lalu, dalam sebuah acara internal, Prabowo juga menggunakan istilah tersebut untuk merespon persoalan etika di dalam atmosfer pemilu Presiden 2024, yang kemudian menimbulkan berbagai tanggapan dan polemik di masyarakat (Detik.com, 2023)
Ucapan "ndasmu" yang dilontarkan oleh Prabowo dalam beberapa kali tersebut dapat dibaca dalam kaitannya dengan bagaimana kekuasaan, tanggung jawab, dan relasi dengan wajah orang lain dimainkan dalam diskursus politik. Di dalam tradisi filsafat politik, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan cara seorang pemimpin memahami relasi dengan rakyatnya. Etika politik menuntut agar pemimpin menjaga keseimbangan antara ekspresi personal dan tanggung jawab publik. Seorang presiden bukan hanya individu, tetapi simbol negara yang setiap ucapannya memiliki dampak luas, sebagai refleksi dari dinamika kekuasaan dalam ruang publik.
Di dalam perspektif etika politik, khususnya melalui pemikiran Emmanuel Levinas di dalam Totality and Infinity: An Essay on Exteriority (1961), yang membahas konsep wajah (le visage), bahwa ucapan tersebut dapat ditafsirkan sebagai bentuk dominasi simbolik yang menekan "wajah lain" yang berbeda, suara alternatif dan mereduksi keberagaman dalam diskursus politik. Sedangkan Pierre Bourdieu dalam Language and Symbolic Power (1991) menjelaskan bagaimana penggunaan bahasa dalam politik dapat menciptakan hierarki dan memperkuat dominasi sosial. Ucapan seperti "ndasmu", terutama jika keluar dari seorang pemimpin negara, memiliki efek simbolik yang lebih besar dibandingkan jika diucapkan oleh warga biasa. Ini bukan sekadar ekspresi individual, melainkan bagian dari habitus politik yang menunjukkan relasi kuasa antara pemimpin dan rakyat. Jika dibiarkan, gaya komunikasi semacam ini dapat membentuk budaya politik yang semakin permisif terhadap ujaran yang merendahkan, sehingga melemahkan etika komunikasi dalam demokrasi.
Politik Wajah dan Dominasi terhadap Liyan
Dalam filsafat Levinas, wajah orang lain adalah titik awal dari etika. Melalui wajah, kita diajak untuk mengakui keberadaan orang lain sebagai subjek yang berhak dihormati, bukan sekadar objek yang bisa direduksi, dihina, atau dimanipulasi. Dalam konteks politik, relasi antara pemimpin dan rakyat seharusnya berlandaskan pada etika tanggung jawab, bukan pada dominasi atau pengabaian atas subjektivitas orang lain. Levinas menekankan bahwa hubungan etis dimulai dari pertemuan dengan wajah orang lain, yang mengundang tanggung jawab dan menghentikan kekerasan simbolik atau fisik terhadapnya. Dalam konteks politik, seorang pemimpin yang berbicara kepada rakyatnya idealnya harus memancarkan etika tanggung jawab ini—bukan hanya sebagai representasi kekuasaan, tetapi juga sebagai pihak yang merawat hubungan sosial dengan masyarakat.
Sekaliber presiden mengucapkan ndasmu dalam pidatonya—terutama dalam situasi ketegangan politik—hal ini bisa dipahami sebagai bentuk pelecehan simbolik yang mengabaikan etika wajah Levinasian. Ucapan ndasmu, sebagai respon terhadap rakyat yang dianggap mengkritik kekuasaan, bisa dipahami sebagai bentuk totalisasi, yaitu kecenderungan untuk mengabaikan atau bahkan menihilkan subjektivitas orang lain demi mempertahankan dominasi wacana yang satu arah. Alih-alih membuka ruang dialog yang lebih demokratis, ucapan ini justru mempersempit kemungkinan perdebatan dengan cara merendahkan suara alternatif. Dari perspektif Levinas, etika politik justru menuntut kehati-hatian dalam menggunakan bahasa agar tidak menghapus keberadaan "yang lain" sebagai subjek yang memiliki hak dan martabat.
Levinas juga menekankan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bentuk relasi kekuasaan. Bahasa dapat menjadi sarana untuk membangun dialog yang etis, tetapi juga dapat menjadi instrumen kekerasan yang menghilangkan posisi subjek lain. Seorang pemimpin yang menggunakan bahasa kasar dalam pidato publik, terutama dalam konteks relasi kuasa yang asimetris, berisiko menciptakan budaya politik patronase yang menuntut ketundukan bagi yang liyan, terutama yang dianggap tak memahami konstruksi dan rekonstruksi kekuasaan yang sedang bekerja.
Pertanyaan utama yang muncul dari perspektif Levinasian adalah: Apakah ucapan seperti "ndasmu" mencerminkan pengakuan terhadap wajah rakyat? Jika wajah adalah representasi dari eksistensi individu dan tuntutan etis terhadap pemimpin, maka penggunaan bahasa yang merendahkan bisa dianggap sebagai upaya untuk menghapus keberadaan rakyat sebagai subjek yang patut didengar.
Eskalasi demokrasi yang sehat, kritik adalah bagian integral dari mekanisme check and balance. Namun, ketika pemimpin merespons kritik dengan ujaran yang bersifat menutup ruang dialog, ini bisa menjadi indikasi adanya kecenderungan politik dominatif. Politik dominatif dalam konteks ini bukan hanya berarti penguasaan terhadap kebijakan negara, tetapi juga kontrol atas narasi publik dengan cara mengerdilkan lawan diskursus.
Dalam demokrasi yang sehat, rakyat bukan hanya objek kekuasaan, tetapi juga aktor politik yang memiliki hak untuk berpartisipasi dan menyampaikan kritik. Namun, ketika pemimpin merespons kritik dengan ujaran yang cenderung kasar, ini menandakan adanya kecenderungan untuk menutup ruang dialog dan mengontrol narasi politik secara sepihak.
Dengan merespons kritik dengan "ndasmu", pemimpin tidak hanya menunjukkan sikap defensif, tetapi juga berusaha membingkai kritik sebagai sesuatu yang tidak perlu ditanggapi secara serius. Hal ini berpotensi mengarah pada delegitimasi suara alternatif, sehingga masyarakat kehilangan ruang untuk berpartisipasi dalam proses politik yang lebih deliberatif. Dari perspektif Levinas, politik seharusnya tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga tentang tanggung jawab kepada yang lain. Seorang pemimpin tidak hanya berfungsi sebagai pengambil keputusan, tetapi juga sebagai teladan dalam membangun relasi sosial yang etis.
Secara umum, bahwa ucapan "ndasmu" bukan sekadar kata-kata; ia memiliki daya performatif yang dapat memengaruhi bagaimana masyarakat memandang norma komunikasi politik. Jika seorang pemimpin menganggap wajar penggunaan bahasa seperti ini, maka ruang publik dapat bergeser dari arena dialog yang etis menjadi medan pertarungan simbolik yang sarat dominasi dan relasi kuasa patronase yang mendegradasi kritik publik.


Komentar
Posting Komentar